• Feed RSS
6
Salam pendekar dan salam kesatria!

Pertama-tama saya ucapkan salam kenal kepada semua rekan-rekan seniman bela diri kontributor blog ini dan dalam kesempatan izinkan saya untuk berbagi sedikit teori dan teknik dengan teman-teman mengenai konsep "Fencing" atau dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diterjemahkan sebagai "Pemagaran Diri" yang kiranya bisa bermanfaat bagi anda dalam menjalani rutinitas hari-hari di ibukota yang semakin keras dan brutal.

Teknik dan konsep ini memang suatu konsep yang sering di sebut dan dilatih umumnya dalam style seni bela diri Reality Based. Secara kuda-kuda memang ada beberapa varian, namun secara umum teknik "Fence" ini semuanya mempunyai karakteristik teknik yang sama yaitu penggunaan lengan secara "imajiner" untuk mengelabui, memposisikan diri secara defensif/ ofensif, dan alat pengukur atau tool distancing bagi pengguna "fence" tersebut untuk mempersiapkan diri secara psikis, teknik, persuasif, dan evasif.

Aplikasinya secara teknik relatif mudah di ingat dan di latih dan mengingat keadaan di jalanan hampir sebagian besar kita akan berada dalam posisi berdiri, tidak ada salahnya jika dalam latihan anda sehari-hari anda mulai bereksperimen dengan teknik-teknik tambahan, alternatif atau mungkin melatih bagaimana mengeksekusi teknik andalan anda dalam posisi ini jika seandainya anda dibawah "tekanan nyata".

Harap diperhatikan bahwa penggunaan "atemi" dalam keadaan nyata haruslah penuh pertimbangan karena di mata pihak ketiga anda tidak mau terlihat sebagai agresor namun jika keadaan memang memaksa anda untuk bergerak secara pre emptif pastikan bahwa karena semua pilihan persuasif untuk mundur atau adanya " A Clear and Immediate Danger " sudah tidak terelakkan.

Berikutnya adalah walaupun dalam video saya menganjurkan atau menyarankan menggunakan tangan terbuka sebagai intro awal anda, adapun beberapa hal yang perlu di ingat yaitu metode tangan kepal atau terbuka bisa tergantung juga pada praktisi. (Sebagai catatan saya pribadi lebih menyukai tangan terbuka sedangkan instruktur Krav Maga saya lebih prefer closed fist).

Kedua ingatlah bahwa setiap senjata atau weapon mempunyai range, posisi, target dan tempat masing-masing. Umumnya serangan tangan terbuka seperti palm heel bersifat linear, dan dalam posisi tertentu serangan ini justru kurang efektif. (Belum lagi reaksi instingtif natural manusia untuk membuat kepalan sebagai persiapan memukul ketika kesal, marah atau emosi. Sehingga menyerang dengan tangan terbuka selain juga butuh latihan, juga butuh conditioning secara fisik dan psikis)

Semoga video ini bermanfaat dalam konteks pertahanan diri anda, dan juga bisa memperkaya launching pad teknik anda untuk keadaan sehari hari dalam menghadapi suatu konfrontasi atau aksi kriminal yang suatu saat akan saya bahas lebih dalam namun secara garis besar singkatnya teknik Fence ini juga adalah salah satu tool untuk mematahkan fase Interview kejahatan yang terjadi dalam proses aksi kriminal.

Salam pendekar dan salam kesatria!





2
Ada dua kampung di Baduy Luar yang terkenal pembuatan perkakas tajam, yaitu kampung Batu Beulah dan Cisadane. Kedua kampung ini letaknya tidak berjauhan, dan berada di sebelah Selatan Baduy (Kanekes). Tukang membuat perkakas tajam ini dinamakan Panday Beusi. Yang dibuatnya antara lain Golok, Kujang, dan Baliung. Kampung yang sangat populer goloknya yaitu dari panday beusi Batu Beulah dan Cisadane. Sejak dahulu kedua kampung yang berdekatan ini sudah terkenal buatan goloknya yang sangat hebat (karena kekuatan, ketajaman, dan pamornya). Bahkan tersebutlah nama seorang panday beusi Daenci (sekarang sudah meninggal dunia) yang terkenal karena kesaktian dan kekuatan goloknya. Kepopuleran Batu Beulah hingga kini tidak bisa dilepaskan dari nama Daenci. Anak dan cucu Daenci merupakan generasi penerus pembuat golok Daenci.


Golok atau bedog menjadi atribut sehari-hari lelaki Baduy. Ada dua macam Golok yang dibuat dan digunakan oleh orang Baduy, yaitu golok polos dan golok pamor. Golok polos dibuat dengan proses yang biasa, menggunakan besi baja bekas per pegas kendaraan bermotor yang ditempa berulang-ulang. Golok ini digunakan oleh orang Baduy untuk menebang pohon, mengambil bambu, dan keperluan lainnya. Golok Baduy yang telah diyakini kekuatannya yaitu golok yang berpamor. Golok pamor memiliki urat-urat atau motif gambar yang menyerupai urat kayu dari pangkal hingga ujung golok pada kedua permukaannya. Proses pembuatannya lebih lama dan memerlukan pencampuran besi dan baja yang khusus. Kekuatan dan ketajaman golok pamor melebihi golok polos biasa, di samping memiliki kharisma tersendiri bagi yang menyandangnya.


Golok buatan orang Baduy-Dalam berbeda dengan buatan orang Baduy-Luar. Secara jelas perbedaannya terletak pada sarangka dan perah-nya, baik yang berpamor maupun tidak. Golok terbuat dari bahan baja dan besi bekas dari per pegas kendaraan bermotor. Pembuatannya dengan cara menempa besi baja tersebut hingga pipih dan tajam dengan pemanasan api arang.


Rekahias golok diterakan pada bagian sarangka (wadah) dan perah (pegangan). Motif hiasnya berupa garis-garis yang geometris mengikuti alur dan arah sarangka dan perah tersebut, dengan menggunakan alat pisau pangot, atau pisau raut dan gergaji kecil.


Bahan untuk membuat sarangka ialah kayu Reunghas, dan perahnya dari bahan kayu duren atau kayu jenis lain yang lebih keras. Pengikat atau penguat sarangka digunakan bahan tanduk sapi atau kerbau yang telah diraut terlebih dahulu. Tanduk sapi atau kerbau kadang-kadang digunakan pula untuk perah golok (berdasarkan pesanan).


Kujang adalah alat untuk keperluan bercocok tanam di huma, misalnya untuk nyacar, ngored, dan dibuat. Benda seperti ini di daerah Sunda yang lain sering dinamakan arit. Kujang dibuat dari bahan besi dan baja yang ditempa. Alat ini disebut kujang karena berbentuk mirip kujang sebagai senjata khas Pajajaran dan kini menjadi simbol daerah Jawa Barat.


Istilah kujang ditujukan untuk bentuk seperti kujang dengan bagian bawah (tangkai)nya seperti golok , dan alat ini banyak digunakan oleh orang Baduy Dalam. Sedangkan bagi orang Baduy Luar biasanya menggunakan istilah kored (alat untuk pekerjaan ngored/membersihkan rerumputan di huma).


Baliung adalah alat untuk menebang pohon besar atau sebagai salah satu perkakas untuk membangun rumah. Di daerah lain disebut juga kapak. Gagangnya terbuat dari kayu yang agak panjang (30-35 cm). Tenaga dan daya tekan Baliung harus lebih besar daripada golok, dan karena itu dibuat dari besi baja yang lebih besar dan tebal pada bagian pangkal (yang tumpulnya).

di sunting dari :
KRIYA DAN REKAHIAS BADUY
Nanang Ganda Prawira
1
Bagaimana mereka penggemar cerita-cerita bela diri, pasti sudah tak asing dengan istilah senjata pusaka. Senjata pusaka adalah andalan para pendekar atau ksatria yang biasanya digunakan pada saat-saat tertentu atau dia gunakan pada saat terdesak. Senjata pusaka dianggap mempunyai "karomah" atau "berkah" yang akhirnya membedakan senjata tersebut berbeda dengan senjata biasa.

Begitu tertanamnya cerita tentang karomah senjata pusaka, sehingga akhirnya banyak yang berburu senjata pusaka ini, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk mendapatkannya. Apalagi bila senjata tersebut pernah dimiliki oleh orang yang terkenal akan kesaktiannya, maka sudah dipastikan senjata tersebut akan jadi rebutan banyak orang.

Ada beberapa kisah di bawah ini yang dapat dijadikan pelajaran tentang pusaka;

kisah pertama,

Dalam kisah Naga Sasra Sabuk Inten, banyak orang yang berebut ke ke dua pusaka tersebut bahkan sampai penuh dengan pertumpahan darah karena mereka percaya siapa yang memegang pusaka tersebut akan menjadi raja, tetapi dalam akhir kisah diceritakan bahwa sia2 bagi mereka yg memperebutkan ke 2 pusaka tersebut. Sebab sipat kandil dari ke 2 pusaka tsb tersebut sudah luluh dalam diri Mas Karebet atau Joko Tingkir.

kisah kedua

Kita pernah dengar kisah Ken Arok versus mpu Gandring. Seorang pande besi terkenal dari desa Gandring yang mendapat order membuat keris. sang Empu Tewas ditikam oleh pemberi Order (Ken Arok) Karena keris yang dipesan tidak selesai tetap waktu. Disisi lain sang Empu menyumpah bahwa keris yang dibuatnya akan memakan 7 Nyawa, termasuk Ken Arok Sendiri.

Terlepas apakah sang empu ini orang sakti atau bukan, yang jelas sang Empu adalah seorange expert dalam tehnik pembuatan senjata.
Sudah tentu bahwa sang empu memiliki laku jauh lebih sempurna dari keris yang dbuatnya. kemudian Ken Arok bukan soerang expert pembuat senjata, tetapi dia expert dalam menggunakan senjata.
jelas pula bahwa Ken Arok memilik tataran kesempurnaan laku yg lebih sempurna dari keris yang dibuat oleh mpu Gandring.
Kalau kita mau melihat dari perspektip lain, insiden berdarah karena ada suatu kesepakatan yang dilanggar oleh satu diantara dua pihak. Bisa saja Sang empu tidak tepat waktu sehingga konsumenya marah dan ngamuk. atau juga bisa biayanya tidak sesuai dengan perjanjian. pokoknya disitu ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sehingga Ken Arok nekat menghabisi sang Empu dengan keris yang dibuatnya.

Kemudian sebelum ajal sang Empu menyumpah bahwa keris yang dibuatnya akan memakan 7 nyawa termasuk nyawa Ken Arok sebagai korban kedua.
Maka pertanyaanya, yang bertuah itu kerisnya atau Sabda Sumpah nya mpu Gandring ?

Dari kedua kisah tersebut di atas, saya rasa kita bisa memahami bahwa pusaka hanyalah benda mati, sedangkan yang hidup adalah manusianya. Pusaka secara luas, bisa diartikan senjata terhebat atau ilmu/bela diri terhebat, semuanya itu benda mati. Bahkan bom nuklir yang dahsyat itu tidak akan berarti apa-apa, tanpa tombolnya ditekan oleh manusia yang hidup.
0
Seni bela diri bertongkat atau yang dikenal sebagai stick fighting adalah sebutan secara umum untuk seni bela diri yang mengunakan bentuk tongkat atau stick, tumpul, senjata genggam, secara keseluruhan terbuat dari bahan kayu atau sejenis untuk keperluan pertarungan seperti toya (tongkat panjang), tongkat sebagai alat bantu para manula, stick sepanjang 40-70 cm atau yang serupa.

Beberapa teknik bisa dilakukan dengan menggunakan payung atau mungkin sebuah pedang yang masih dalam sarung, tetapi bentukan-bentukan senjata sejenis yang lebih berat dan lebih besar diameternyah seperti gada atau gada perang [[besi] diluar materi 'stick fighting' (selama tidak bisa digunakan dengan lebih lincah, karena bentukan yang lebih besar tersebut lebih ke arah impact) Meskipun berbahaya tapi ‘seni beladiri bertongkat’ bisa dimasukkan dalam olahraga yang dipertandingkan, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah adanyah pemakaian pelindung badan dan kepala dalam penerapannya, seperti kendo (Seni bela diri pedang Jepang yang menggunakan pedang bambu yaitu shinai sebagai pengganti pedang tajam)

Bentukan seni beladiri bertongkat
Beberapa seni bela diri yang umum, spt Kung fu (Wushu), Pencak Silat, Aikido dll, juga memasukkan seni bela diri bertongkat dalam kurikulumnya, dalam tradisi Kerala's Kalarippayattu materi stick/senjata dari sejenis kayu adalah senagai dasar pelatihan sebelum meninjak kepada senjata yang lebih berbahaya yaitu senjata tajam.

Seni beladiri bertongkat merupakan satu sejarah panjang sebagai bagaian dari pertarungan perorangan atau sebagai pertarungan masal(perang dalam berbagai budaya masyarakat di belahan dunia, salah satu contohnyah adalah suku di daerah Ethiopia, suku Surma, suku Nyangotam dimana mereka berperang dengan telanjang dada, bahkan memakai tongkat yang diberi tali pada ujungnya.

Di Indonesia (Lombok dan Bali) ada satu bentukan seni beladiri bertongkat yang disebut ujungan/peisian dimana merupakan seni permainan ketangkasan yang dilakukan oleh dua orang jawara. Mereka saling memukulkan (menyabetkan) tongkat rotan ke arah kaki, sambil diiringi oleh tabuhan sampyong yang terdiri dari gambang dan totok (kentongan bambu). Disamping itu terdapat dua orang beboto (pemisah) yang bertugas melerai jika kedua jawara saling bergumul. Sementara penonton disekeliling membentuk kalangan (arena) dan sesekali bersorak riuh, bila ujung rotan mengena dan berhasil menjatuhkan lawan.

Dalam tradisi Eropa ada banyak variasi bentuk metode dalam seni bela diri bertongkat sebagai pertarungan tongkat pendek, dimana tertulis dalam manuscripts oleh para master, beberapa dari sistem stick fighting di eropa sudah tidak dipelajari lagi, tapi ada beberapa yang masih bertahan sampai saat ini, contohnya adalah Jogo do pau dari Portugal, Bâton Français dari Perancis. Sherma di Bastone dari Italia. Trattato teorico e pratico della scherma di bastone yang merupakan buku panduan seni beladiri bertongkat dari Giuseppe Cerri's (1854) adalah satu bentukan seni beladiri bertongkat yang banyak dipengaruhi oleh para master pedang Italia, Achille Marozzo dan juga Francesco Alfieri.

La Canne, adalah satu sistem seni bela diri bertongkat yang dipakai saat ini sebagai sistem pertandingan, bentuk ini diadaptasi dari master Pierre Vigny pada awal th 1900-an yang merupakan bagian dari kurikulum Bartitsu.

Di Amerika selama awal tahun 1900-an, praktisi anggar dan ahli seni bela diri A.C. Cunningham menciptakan satu sistem seni bela diri bertongkat yang unik, dengan media walking cane (tongkat bantu untuk orang tua) dan payung, yang ditulis dalam buku The Cane as a Weapon

Di Inggris, yang diketahui sebagai single stick(tongkay tunggal) atau cudgels, adalah salah satu yang populer pada jamannya, yaitu pada abad 18 sampai awal abad 20, dimana bentukan seni bela diri bertongkat tersebut dipertandingkan juga dalam Olimpiade, meskipun tertarik pada anggar, beberapa pelatih anggar tetap melakukan pelatihan dan mempertandingkan seni bela diri bertongkat, dan pada tahun 1980 seni bela diri bertongkat dikenalkan pada Angkatan Laut Inggris oleh Comander Locker Madden, dan seni bela diri ini pada akhirnyah banyak mempengaruhi seni bela diri di jajahan Inggris pada saat itu.

Amerika Latin juga mengenalkan seni bela diri bertongkat, seperti Juego del Garrote di Venezuela atau Palo do Brazil di Brazil.


Filipino Martial Arts (FMA)
Salah satu seni bela diri bertongkat yang sistem dan metodanya banyak dikenal di dunia, adalah Filipino Martial Arts (FMA): Kali-Eskrima-Arnis, sistem seni bela diri bertongkat dalam FMA adalah satu bentukan yang selaras dengan seni bela diritangan kosong, atau bahkan bentukan senjata tajam dengan berbagai macam bentuk dan ukuran.

Selama ini banyak terjadi salah pengertian, ketika mendengar kata : Kali-Eskrima-Arnis, bayangan sebagian orang adalah hanya pelatihan seni bela diri bertongkat... Kali-Eskrima-Arnis adalah satu seni bela diri yang lengkap, stick bisa digunakan sendiri sebagai senjata tumpul, tetapi seseorang butuh keahlian dari seni bela diri bersenjata tumpul maupun tajam, dan seni bela diri tangan kosong (tendangan, tinju, kuncian, and gulat) dalam semua jarak, dg keadaan apapun (tangan kosong v senjata, senjata v senjata dll)

Panatukan/Pangamot merujuk kepada keahlian tangan Sikaran/Pananjakman memerujuk kepada keahlian tendangan Dumog merujuk kepada keahlian bergulat dan membanting lawan

bentukan tongkat yang digunakan dalam FMA disebut sebagai olisi atau baston, yang terbuat dari rotan, berdiameter 1.5 - 2.5 cm, sepanjang lengan dari bahu sampai ujung telapak tangan (70 cm)


Seni beladiri bertongkat di berbagai negara
Secara berurutan sesuai abjad:
* Modern Arnis | Arnis (Filipina)
* Bartitsu (Inggris, Swiss/Prancis dan Jepang)
* Bata (Irlandia)
* Canne de combat (Prancis)
* Bâton français (Prancis)
* Bōjutsu (Jepang|Okinawa)
* Calinda (Karibia|Trinidad)
* Dravidian martial arts (Dravidia)
* Egyptian stick fencing (Mesir)
* Eskrima (Filipina)
* Gun | toya (China)
* Hanbo (Jepang)
* Jogo do pau (Portugis)
* Jojutsu (Jepang)
* Juego del Palo (Pulau Canary)
* Kendo (Jepang)
* La canne (Prancis)
* Makila (Basque)
* Nguni stick fighting (Afrika Selatan)
* Quarterstaff (Inggris)
* Shillelagh (Irlandia)
* Silambam (Tamil)
* Society for Creative Anachronism activities
* SCA rattan weapons (Amerika Serikat)
* Tamil Martial Arts (Tamil)

source: My Kontribution in Wikipedia Indonesia
3
Pernah dengar? orang-orang sering bilang istilah ini tapi apa artinya ya? Yang jelas bukan gambar yang lezat disamping ini...

coba kita liat di urbandictionary.com:

A martial arts studio that basically spits out belts to hold the attention of its students so they can suck the money out of them.

A McDojo is when Johnny took martial arts for 5 months and got his yellow belt. Chris took martial arts for 4 weeks and got his yellow belt while being sloppy and unprepared.

Nah lo, hati-hati dengan McDojo! terkadang, sebuah dojo Karate, Silat, BJJ, etc. you name it ngiming-imingi kenaikan sabuk secara instan dengan bayaran alias 'uang pelicin' kalo dalam dunia persilatan (wae).

Belakangan banyak sekali McDojo-McDojo yang bermunculan, bahkan saya menjadi saksi mata sendiri. Bagaimana sebuah Perguruan Silat, ga enak disebut namanya, hanya dengan modal memotret seorang pendekar silat dia membuka dojo.

Wow, ini sangat menjatuhkan aliran beladiri bersangkutan, dan ini sering terjadi di kehidupan sehari-hari, dimana banyak guru2 palsu membuka dojo Karate, TKD, Kempo, etc dan menjanjikan kenaikan sabuk yang cepat. Padahal, terkadang sabuk bukanlah segalanya dalam MA, bang Bruce Lee pernah bilang satu-satunya kegunaan sabuk ialah mencegah celana melorot.

Memang sih dojo-dojo yang memang memegang prinsip mereka, tidak dengan mudah mengumbar sabuk. Hanya saja ulah oknum-oknum tertentu bisa menjatuhkan lairan beladiri tertentu dan dianggap McDojo...biasanya sih aliran beladiri yang udah kondang!

Jadi, hati-hati dengan McDojo, lihat latihannya, apakah sang guru melatih dengan serius? apakah kriteria naik tingkatnya mudah? ataukah ada 'jalan pintas'? Semua kembali pada diri kita masing-masing.
1

Dalam kehidupan se-hari2 sering kita dapati istilah ‘mata keranjang’ dilontarkan kepada seseorang yg memiliki hobi jelalatan saat melihat cewek cuantik, mulus, bahenol dsb lewat di depan matanya. Dan tak jarang penyakit mata jelalatan ini dilengkapi pula dengan kebiasaan2 tidak senonoh lainnya yg berupa pikiran2 (imajinasi) kotor tentang betapa asoy-nya jika dia bisa berkencan dengan cewek yg di-jelalati tsb. Pada level yg paling parah, si cowok mata keranjang ini akan memburu si cewek untuk segera ditahlukkan.

Maaf, penulis tidak bermaksud untuk membahas penyakit laki2 dalam sebuah blog martial arts. Namun hanya meminjamnya sebagai analogi terhadap apa yang penulis lihat sebagai ekses dari urusan per-beladiri-an (baca: laki2) di dalam kehidupan se-hari2. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menciderai perasaan para pelaku beladiri, siapa, aliran apa dan di manapun anda berada, namun lebih bersifat sebagai sebuah pertanyaan yg memerlukan jawaban jujur dari hati yg mulia setiap insan pebela diri.

Belajar Bela Diri dan Percaya Diri

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap orang yg belajar bela diri memiliki motif yg beragam. Tentu saja karena kondisi setiap orang memang berbeda. Yg berbadan lemah dan sakit2an (nyindir diri sendiri) ikut latihan beladiri dengan tujuan agar menjadi lebih fit, lebih segar dan tentu saja agar lebih sehat. Yg bermental penakut (eh nyindir lagi) ingin menjadi sosok yg lebih ‘jantan’ dan ‘heroik’. Yg hobi berantem di jalanan ingin sadar dan masuk dojo agar bisa mengendalikan emosinya. Siapa tahu malah bisa menjadi juara dalam turnamen dan dapat hadiah banyak. Lumayan ketimbang babak belur di jalanan tanpa ada bayaran. Yg berprofesi sebagai petugas keamanan berlatih bela diri untuk meningkatkan profesionalisme-nya dalam bertugas. Yg banyak duit juga berlatih dan bikin dojo untuk membangun sebuah komunitas bela diri. Dst. Dst. Dsb. Semuanya tentu positif dan sangat bermanfaat. Meskipun pada kenyataanya juga ada yg ikut beladiri untuk hal2 negatif seperti (maaf) para pencuri, perampok atau bahkan ‘teroris’. Mereka mencari ilmu untuk tujuan merugikan orang lain. Tetapi, meskipun salah, mereka ini tetap dalam tujuan yg mulia, yakni mencari rejeki untuk menghidupi anak2 mereka. It’s not about martial arts, tetapi ini kembali ke urusan (perut) manusia-nya. Bela diri tak ubahnya teknolgi internet. Bisa digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan, namun sebaliknya bisa dipakai juga untuk menipu orang. Semua kembali kepada user-nya.

Pada masa2 awal seseorang mengikuti latihan bela diri, dia akan merasa semakin percaya diri ketimbang sebelum latihan. Secara psikologis ini bisa saja terjadi. Penjelasannya sangat sederhana. Karena dia sekarang merasa memiliki banyak teman, dan sebuah komunitas bela diri yg ‘dianggapnya’ akan siap membantu dirinya jika terjadi sesuatu di luar dojo. Tentu yg dimaksud adalah hal2 yg berkaitan dengan konflik social yg mungkin menimpanya. Kejadiannya agak2 mirip dengan seseorang yg keluar dari bioskop usai memutar film2 Bruce Lee, Jackie Chan, jet Lee, Donnie Yen atawa Van Damme. Dia akan keluar gedung dengan dada di-bidang2kan dengan pandangan mata siaga dan waspada seakan sedang berada dalam sebuah pertarungan di film yg baru ditontonnya. Entah ini gejala apa namanya (atau mungkin ini ada hubungannya dengan penelitian yg dilakukan oleh Ivan Petrovich Pavlov - pakar psikologi tentang perilaku manusia di tahun 1800-an). Kondisi ini mungkin bisa dimaklumi jika mengingat si ‘praktisi’ bela diri ini masih sabuk putih alias pemula. Tetapi, pride yg berlebihan terhadap aliran, dojo ataupun figur2 yg ada di tempat dia berlatih acapkali tidak disadari akan menyeret seseorang untuk berlaku berlebihan. Menganggap dojo-nya lebih bagus dibanding Dojo lainnya. Menganggap dirinya lebih kuat dibanding orang lain yg ditemuinya. Dst. Dst.

Di luar dojo, model (sikap dan perilaku) orang yg seperti ini akan menjadi selalu ‘lapar mata’ untuk berlatih bela diri. Yg dulunya menundukkan kepala karena minder, setelah beberapa bulan berlatih, akan berjalan dengan badan tegap (meskipun kerempeng) dan selalu menatap mata setiap orang yg berjalan di depannya. Tak jarang karena rasa PDOD (percaya diri overdosis)-nya, sesekali sia akan berjalan dengan gaya footwork seorang petinju (atau malah lebih mirip gaya berjalan seorang model di channel FTV). Pada tahap ini, martial arts sudah tidak lagi menjadi sebuah self defense sebagaimana awalnya dia berlatih, tetapi malah menjerumuskannya ke dalam potensi konflik saat seseorang dengan ‘pride’ yg sama berjalan berpapasan dengannya dan ter-provokasi. Pebeladiri yg terjangkiti ‘penyakit’ lapar mata ini seringkali over-reacted. Ada orang memegang dan mengelus hidung saja (karena mau buang ingus) akan diterjemahkannya sebagai sebuah tantangan. Ini akibat saking seringnya menonton film Bruce Lee yg demen bergaya ‘buang ingus’ sebelum memulai fighting. Ada orang mengangkat sedikit celana panjangnya sudah akan dianggap sebagai seseorang yg akan melakukan roundhouse kick ke arahnya. Aya2 wae!

Inilah yg penulis maksud dengan penyakit Mata Keranjang dalam martial arts. Jika seorang hidung belang selalu jelalatan dan berusaha menggaet cewek cantik untuk ditaklukkannya dalam sebuah turnamen gulat tertutup ( ....uups!), maka seseorang yg mata keranjang dalam martial arts adalah mereka yang selalu jelalatan matanya mencari lawan untuk ditaklukkan dalam duel jalanan. Bedanya, jika si hidung belang melakukannya karena tuntutan libido yang meledak-ledak, maka si petarung belang (sebutan baru nih) melakukannya demi alasan harga diri dan kehormatan yang disandang oleh perguruannya. Dalam situasi seperti ini, slogan bela diri bergeser menjadi ‘best defense is offense’

Dari Mata turun ke Tinju

Pandangan mata memang ibarat anak panah sedangkan mata sebagai busurnya. Pandangan mata yg dilesatkan ke mata orang lain tanpa tujuan yg jelas bisa diartikan sbg tantangan, yg kemudian memunculkan kalimat ADA APA LIAT LIAT ….. NANTANG? Kalau sudah begini sebuah partai MMA tanpa limitasi waktu dan aturan bakalan digelar gratis. Dalam pertarungan jalanan biasanya berlaku ‘No rule is the rule’ atau ‘anything goes’. Colok mata, tanduk kepala, tendang kemaluan atau bahkan gigit kuping ala Mike Tyson sah2 saja dilakukan, dan kemenangan hanya bisa diperoleh melalui KO atau submission tap out.. No judge decision karena tak ada wasit di sana, karena ‘ring’ hanya dijejali oleh ‘penonton’ yg bukannya mencegah konflik tetapi malah mem-provokasi ke dua pihak untuk segera memulai adegan fighting. Both fighters - Yg menang ataupun yg kalah, biasanya langsung dikirim ke RS terdekat untuk berobat sebelum mereka berurusan dengan polisi. Syukur2 tak ada cidera permanen.

Itu terjadi kalau ke dua pihak masih cukup pede dengan kemampuan ‘bela diri tangan kosong’-nya, lalu bagaimana jika mereka saling mengeluarkan senjata – baik tajam maupun tumpul? Partai NHB akan segera menjelma menjadi partai ‘stick / knife fighting’. Seorang rekan yg praktisi beladiri per-pisau-an pernah bercerita bahwa dalam sebuah pertarungan dengan senjata, yg menang ataupun kalah bakalan sama2 besar kemungkinan mendapatkan luka. Lha iya, gimana nggak?

Pesan yg ingin disampaikan dalam posting gado2 ini adalah betapa pentingnya menjunjung tinggi semangat persaudaraan di antara para pelaku beladiri pada khususnya, dan di dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya demi mewujudkan keamanan dan kenyamanan di sekitar lingkunagn kita. Janganlah kita dibutakan oleh harga diri dan kehormatan sebuah aliran. Orang akan menghormati sikap dan perilaku santun kita, bukan pada stiker yg tertempel pada kendaraan atau logo2 martial arts tertentu pada t-shirt kita.

Santun di matras. Santun di atas ring. Dan santun di dalam kehidupan bermasyarakat. Adalah sosok yang ideal. Seperti janji para petarung Muay Thai yg dikutip di bawah ini :

I will ensure that I am clean, strong and behave with honesty and integrity,
I will not bully those weaker than myself,
I will undertake good deeds to the benefit of others and be loyal to the nation,
I will avoid causing trouble of any kind,
We will be united and help one another whenever possible.

Junjung tinggi sportifitas dan semangat persaudaraan!

Tks to rekan Hartcone, saya jadi ge-er dapat undangan gabung di sini. Maklum, ada yg senyum2 di ujung sana!

Salam

Train Smart - Blog Hard!


0
Pernah tidak terlintas dalam pikiran kita, mengapa kita belajar Beladiri? Tentunya setiap orang punya alasan yang berbeda-beda, ketika saya tanyakan ke beberapa temen, jawabnya kadan ada yang lucu dan konyol. misalnyah: gara-gara maen game trus pengen seperti Howarang (teken), ada yang menjawab pengen seperti Sensei Seagal, kepincut beladiri gara-gara nonton Royce Gracie, pengen jadi pahlawan dll.

Hobby? emang bener hobby untuk menjadi yng tertinggi, ada kepuasan ketika memenangkan pertarungan, ada kepuasan dan rasa gagah ketika mengolah badan, 1000x pukulan, 1000x tendangan, keringat cape nomer sekian, yng penting klo sparring atau kompetisi paling no.1, dilihat banyak penggemar.

Cari sehat? lho cari sehat kok latihan Beladiri, cari sehat kok latihan TaiChi?? Senam Aerobik ada, Fitness Centre banyak, olahraga2 lain banyak banget, kenapa harus Beladiri yang diambil?

Pengen melestarikan budaya kuno? lha kok Kenjutsu n Iaijutsu yng dipilih? atau Pencak Silat? kenapa ga jadi pemain Kabuki? atau pemain Karawitan dan Seni Tari? klo nonton pilem2 Samurai, uwahhh mantab banget apalagi klo Samurainyah menang, sekali tepas pake iai mantep banget... keren, hebat, pengen ah menjadi seperti Samurai, pegang pedang katana yang panjang.

Dulu pernah suatu ketika ditodong, kalung, dompet, bahkan sampai cincin kawin amblas!
kemudian menyesali diri, kenapa pecundang, pengen banget jotos tuh penodong, dendam banget ga mau jadi pecundang pengen jadi sang pemenang kalau ada penodongan lagi, hingga bisa bikin si penodong 'KO', trus dibawa ke kantor polisi, wehh hebat pahlawan!! super hero!! dipuji2 banyak orang bahkan sampai masuk koran.


Sosialisasi? pengen buang waktu luang dan lain-lain dan lain-lain lagi? Pada awal belajar martial art secara tidak kita sadari ada motif untuk menjadi “the invincible”. Entah itu yang awalnya cuma untuk beladiri, kesehatan. Tetap disitu keliatan kalau dia punya mimpi untuk tidak kalah dalam menyelamatkan dirinya dari kejahatan, atau dari penyakit. Semua tujuan orang belajar Beladiri adalah keinginan akan sesuatu yang lebih dari orang lain, karena Beladiri sendiri adalah suatu Seni untuk memaksimalkan apa yang ada pada diri manusia.

Beladiri terbentuk karena ego manusia, manusia yng tidak mau kalah dg alam, tidak mau kalah oleh sesama, adanyah Spiritual dalam Beladiri adalah untuk yang satu ini, dimana karena produk akhir dari Beladiri adalah sesuatu yng tidak baik kalau tidak dikendalikan, dan itu adalah satu level dg EGO MANUSIA yang memang hanya bisa dikendalikan oleh hal yang sifatnyah doktrin yng tidak terbantahkan, yaitu dari sisi spiritual, kesadaran akan hal yng tidak bisa dikalahkan oleh manusia, yaitu sang MAHA TUNGGAL YANG TAK TERKALAHKAN!

Adalah sesuatu tidak enak lho menyerah kalah begitu saja, harus ada sesuatu yng membuat itu manusia bisa ikhlas. Kalau ada yang suka komik Kenji, halaman terakhir seri 20, sambil menatap langit kakeknya bilang ke Kenji kalau inti dari beladiri adalah cinta, ya ini jawabanyah, tepat sekali kakek itu berkata demikian dg penuh arif bijaksananyah yaitu ingin Kenji tidak tersesat, dg apa yng dia punyah, sesuatu yng sangat berbahaya, suatu yang bisa mencelakakan orang lain, bahkan bisa membunuh.

Cinta adalah perasaan manusia yng paling rapuh, suatu keadaan yng sama dg keadaan menyerah atau takluk tetapi dengan ikhlas dalam penyerahan diri.

Spiritual dengan Cinta, hanya itu yng bisa menaklukkan Seni Beladiri. Setelah ego manusia itu dikalahkan oleh hal2 yng memang tidak bisa dikalahkan, akhirnyah ada kesadaran bahwa manusia itu sebenarnyah sangatlah amat terbatas... maka timbulah suatu pemikiran bijak yang akhirnyah bisa mengendalikan ego itu sendiri, hasilnya adalah Seni Beladiri menjadi sesuatu yang indah, bisa menghasilkan suatu Falsafah tentang kehidupan tersendiri dan banyak dijadikan “lifestyle” atau “gaya hidup” oleh manusia2 didalamnyah (hartcone)
Kadang ini menjadi pertanyaan yang sering ditemui, dan secara tidak sadar kita membanding2kan aliran beladiri tertentu, apalagi dengan adanyah MMA (Mixed Matial Arts) spt UFC, K1, Pride dll. Apakah ada satu aliran beladiri yang terbaik? Kadang kalau lihat awal2 UFC ground fighting sangat dominan dalam arena pertandingan tersebut, dimana menjadikan Royce Gracie sebagai legenda. apakah ground fighting yang terbaik? lalu bagaimana dg style2 atau aliran beladiri lainnya? tetep ada dan banyak peminatnya kan?

Sebenarnyah tidak ada beladiri yang terbaik, karena semua adalah baik!! Unsur pelaku dalam beladiri tersebut yang lebih berperan, keahlian seseorang itu yang lebih dinilai dalam setiap match atau sparr, contoh secara extrem, kalau dibilang ground fighting lebih dominant dari stand-up fighting, bagaimana jika para pelakunyah diganti? yang ground fighting anak usia 10 tahun dan yang stand-up fighting seorang yang dewasa? mau pegang mana? tentunya kita semua tau bahwa banyak faktor yang berpengaruh dalam fight, power, speed, skills dan masih banyak yang lainnya termasuk faktor luck, seorang anak 10 tahun kalah dalam tenaga, kematangan dalam berfikir, otomatis seorang yang dewasa akan mudah mengalahkannya.

Nah sekarang bagi kita sendiri, mana yang beladiri yang terbaik? Semua tergantung pada tujuan kita untuk mencari apa dalam belajar beladiri, bagaimana cara mengajar seorang guru dalam menyampaikan ilmunya, dan bagaimana kerja keras dan ketekunan sang murid dalam belajar untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi.

Sebagian beladiri mengkhususkan pada pertarungan secara militer, untuk pertarungan jalanan. Sebagian lagi lebih bertujuan pada olahraga yang dipertandingkan, baik itu dalam performa bentuk2 peragaan jurus atau dalam beladiri jepang lebih dikenal dg sebutan "kata", atau dalam bentuk pertarungan persahabatan baik yang full contact dan non contact, itupun masih terbagi dalam bentuk ground fighting dan secara stand-up. Sebagian lagi lebih menekankan pada bidang tenaga dalam atau chi. Dimana ada sebagian lagi yang lebih menekankan pada seni tradisional yang sarat akan kemurnian teknik2 asli yang sarat akan etika dan disiplin. Sebagian lagi mempelajari cara-cara dan teknik memakai senjata dan lain-lain.

Aliran beladiri yang terbaik bagi seseorang adalah aliran beladiri yang bisa menuntun seseorang untuk mencapai tujuannyah dalam belajar seni tersebut, menjadi menyatu dengan dirinya dan mendorong semangat untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam kemampuannya.

Misalnyah keinginan kita adalah untuk berprestasi dalam style sport yang dipertandingkan dengan full contact, kita sebaiknyah mencari aliran yang mewadahi keinginan kita tersebut. bila ada satu aliran beladiri lain yang tidak sesuai dengan keinginan kita, bukan berarti aliran beladiri itu jelek, kata yang tepat adalah aliran beladiri itu tidak cocok untuk kita tekuni.

Beladiri itu sangat personal dan subyektif, apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain, dan sebaliknya apa yang baik bagi orang lain belum tentu juga baik bagi kita sendiri. Bila ada seseorang yang berkata beladiri "anu" adalah yang terbaik, bukan berarti kitapun harus ikut pada beladiri "anu" tersebut. kitapun juga tidak bisa memaksakan pada seseorang dengan bilang bahwa aliran beladiri saya adalah yang terbaik dan kamu harus ikut didalamnya.

Penting bagi kita adalah tetap membuka diri, menghargai aliran beladiri teman2 kita yang lain. Kadang dengan membanding-bandingkan bisa memicu perselisihan, seperti yang sudah saya tulis berkali-kali, inti beladiri adalah cinta akan perdamaian, beladiri bukan untuk mencari permusuhan atau perpecahan, tapi untuk membawa kita maju dalam mencapai setiap tingkatan yang nantinya akan kita lewati. (hartcone)
Apakah anda pernah takut? Tiap orang kadang-kadang merasa ketakutan. Guntur bergemuruh dan kilat membuat debar jantung anda lebih cepat? Mungkin mulut anda mendadak kering kalau guru anda mengumumkan ada satu ulangan mendadak, atau telapak tangan anda berkeringat kalau tiba pada giliran anda harus memberi laporan di depan kelas. Barangkali anda merasa mual dan mulas ketika melihat seorang preman yang mengusik anda.

Ketakutan Setiap Hari

Kita semua kadang mempunyai ketakutan. Itu adalah hal yang wajar tak ada soal bagaimana kita berbadan besar atau kita benar2 orang pemberani. Suatu saat ketakutan bisa menjadi sangat menolong bagi anda dan terlebih adalah menolong anda untuk selalu sehat. Ketakutan saat dekat api mungkin akan menghindarkan anda dari luka bakar yang parah. Dan ketakutan akan mendapat angka jelek saat ada ulangan, mungkin memaksa anda belajar dengan lebih giat.

Mempunyai sedikit ketakutan juga bisa mempertajam pengertian dan menolong anda menjadi lebih, Beberapa orang malah sangat menikmati ketakutan. Itu adalah alasan mengapa mereka suka tontonan-tontonan yang menakutkan atau pergi untuk naik roller coaster.

Apa Yang Terjadi Saat Anda Takut?

Mungkin anda pernah bertanya-tanya mengapa ketakutan membuat jantung anda berdebar lebih cepat dan memaksa anda bernafas lebih cepat?
Reaksi tubuh dalam ketakutan untuk menjawab dalam mempertimbangkan akan menghadapinya dengan "perlawanan atau menghindar". Dan semua orang pasti mempunyainya sejak awal.

Contohnya adalah. Bayangkan anda sebagai seorang manusia gua yang hidup 100.000 tahun yang lalu, dan tiba2 datanglah seekor harimau purba yang kelaparan berhadapan muka langsung dengan anda.
Anda mempunyai dua pilihan:
1) Berbalik dan menjauhi (itu adalah tindakan menghindar), atau
2) Mengambil gada besar dan bertempuran dengan harimau (itu adalah satu bentuk perlawanan).
Pilihan terakhir menyerah (dimakan) dan itu pasti tidak akan dikehendaki!

Hari ini, anda bisa mempergunakan perlawanan atau lari dari seorang preman yang mendatangi anda dan tidak mempedulikan semua alasan anda. Anda mempunyai dua pilihan:
1) Berbalik dan pergi (melarikan diri), atau
2) Berkelahi (mengadakan perlawanan), sungguhpun anda tahu perkelahian tidak akan memecahkan masalah.

Untuk bersiap dalam perlawanan atau tindakan melarikan diri, tubuh anda akan melakukan kegiatan sejumlah hal secara otomatis untuk menyiapkan pengambilan keputusan yang cepat. Laju jantung anda bertambah untuk memompakan lebih banyak darah ke otot dan otak anda. Paru-paru anda membutuhkan lebih banyak udara bersih untuk menyediakan oksigen. Pupil di mata anda jadi lebih besar untuk bisa mendapatkan penglihatan yang lebih baik. Dan sistem pencernaan dan sistem pembuangan melambat untuk menunjang, dimana setiap aktivitas tubuh adalah untuk bisa memusatkan pikiran pada hal yang harus menjadi prioritas utama tersebut.

Apakah Kegelisahan Itu?

Biasanya, tubuh kita akan memberi singnal ketakutan pada tindakan perlawanan atau tindakan melarian diri hanya kalau ada sesuatu yang menakutkan. Tetapi, kadang ini terjadi walau tidak tampak satu alasanpun untuk menjadikan ketakutan. Hal inilah yang dianggap dianggap sebagai kegelisahan. Mungkin ada perasaan lain yang menyertai kegelisahan seperti merasakan kesesakan di dada anda, sakit perut, pening, atau perasaan bahwa sesuatu mengerikan akan terjadi. Perasaan ini bisa sangat menakutkan. Kadang kegelisahan bisa mengganggu aktifitas, seperti belajar dan tidur.

Untuk beberapa anak, perasaan kegelisahan atau kegelisahan bisa terjadi kapan saja.
Bagi orang lain, hal ini mungkin terjadi hanya di saat tertentu, seperti ketika mereka sedang bepergian atau saat mereka ditinggalkan orang tua untuk pergi ke suatu tampat.
Pada beberapa orang, perasaan kegelisahan bisa ini terjadi hampir seluruh waktu dan dalam satiap tindakan mereka. Beberapa anak mungkin mempunyai fobia, dimana adalah satu ketakutan yang hebat pada sesuatu spesifik, seperti naik ke tempat tinggi, takut menjadi kotor, angka 13, atau laba-laba.

Mengapa bisa Gelisah?

Kegelisahan bisa terdapat dalam setiap anggota keluarga. Atau seseorang mungkin mendapatkan kegelisahan pada sesuatu yang mengerikan yang sudah terjadi, seperti kecelakaan mobil. Kadang kala keadaan penyakit tertentu bisa menyebabkan kegelisahan. Atau disebabkan karena menyalahgunakan alkohol atau obat terlarang seperti kokain.

Bagian keterangan lain adalah tentang keseimbangan cairan kimia di sel syaraf otak kita, dimana hal tersebut bisa mempengaruhi bagaimana perasaan dan tindakan seseorang.
Salah satu cairan kimia ini ialah serotonin. Serotonin adalah salah satu cairan kimia otak yang menolong mengirim informasi dari satu sel syaraf otak kepada lain. Tetapi bagi beberapa yang sering mengalami kegelisahan, cairan kimia dalam sistem otaknya tidak melakukan fungsi dengan benar.

Ada juga, beberapa ilmuwan berpikir bahwa ada satu bagian otak yang secara spesial mengkontrol satu tindakan untuk mengambil keputusan diman harus melawan atau harus menghindari. Dalam hal ini Kegelisaan adalah satu keadaan dimana bagian otak tersebut selalu dalam keadaan “On” atau siaga walaupun sebenarnya tidak ada satu sebab apapun yang menjadikan alasan untuk satu ketakutan.

Mengatasi Kegelisahan

Kegelisahan bisa diatasi dengan baik. Katakan pada orang tua anda bila anda mengalami suatu ketakutan yang terlalu berlebihan, dalam setiap tindakan yang akan anda perlukan atau harus dilakukan. Mungkin orang tua akan membawa anda pada seorang dokter, yang bisa memberikan jalan keluar bila hal tersebut diakibatkan olas suatu keadaan yang disebabkan atau berhubungan dengan kesehatan, atau pada ahli konsultasi secara terapi yang bisa membantu mengatasi kegelisahan lewat cara pembicaraan, aktifitas, latihan relaksasi atau pengobatan(atau kombinasi dari hal tersebut)

Tentu saja, jika anda berhadapan dengan seekor harimau purba yang mempunyai taring panjang, hanya ada satu jalan yang harus anda lakukan.... LARI!!

(“Being Afraid” by David V. Sheslow, PhD, terjemahan - HartCone)
4
Kali ini saya akan mengulas tentang kuda-kuda. Sebagian aliran beladiri tradisional sangat menjunjung tinggi penguasaan dan kekuatan kestabilan kuda-kuda. Kuda-kuda yang kokoh adalah kunci dalam pertarungan kata mereka.

Tidak sepenuhnya salah, karena bagi standing fighter seperti saya, sebisa mungkin jangan sampe jatoh, jangaaan, abis deh kalo suruh guling2 di tanah, gada persiapan :D. Dengan kuda2 yang kokoh, bisa menghindari takedown dan srudukan mauth dari lawan yang tubuhnya gede.

Tapi ada juga beladiri2 yang memakai kuda-kuda lemah dan labil, ini bukannya tidak disengaja. Karena beladiri-beladiri tersebut memang sengaja memancing musuh untuk masuk teritori mereka. Seperti BJJ yang ga segan-segan maen "bawah" sama lawan, sehingga sengaja memancing dengan kuda-kuda lemah, ketika lengah, bet-bet-bet, eh tau-tau kena armbar.

Kuda-kuda juga bisa diterapkan untuk counter-grappling dalam pertarungan, walaupun menurut saya lebih bagus belajar grappling sehingga siap untuk worst case scenario jika memang harus guling-gulingan di tanah.

Dalam hal menyerang, kuda-kuda tak kalah penting. Seperti di Taekwondo, jika sedang menendang, dan kaki satunya labil, lawan bisa dengan mudah menyeruduk dan takedown atau melakukan sapuan sehingga jatuh dan jadi bulan-bulanan.

Dalam Silat yang saya pelajari (Merpati Putih) kuda2 yang bagus adalah mutlak, untuk penguasaan nafas dan power yang bagus, sehingga tidak goyah ketika harus menarik energi berskala besar dari alam. Bahkan salah satu menu utama latihan adalah latihan kuda2, latihan paling menyiksa, tapi hasilnya, jangan ditanya deh.

Jadi, pohon yang kuat adalah pohon yang akarnya kuat mencengkram tanah sehingga tidak terbang ditiup angin :D

PS: Sebagian sumber dalo blog tifan pokhan, thx for the materials :D (typhoon)
Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.

Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.

Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang selalu melaksanakan tatacara dengan membaca do’a - do’a agar dalam pertunjukan benjang tersebut selamat tidak ada gangguan. Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda.

Dari pondok pesantren, kesenian ini menyebar ke masyarakat biasanya di masyarakat diselenggarakan dalam rangka memperingati upacara 40 hari kelahiran bayi, syukuran panen padi, maulid nabi, upacara khitanan, perkimpoian, dan hiburan lainnya, dan dapat pula mengiringi gerak untuk dipertontonkan yang disebut “DOGONG”.

Dogong adalah suatu permainan saling mendorong dengan mempergunakan alu (kayu alat penumbuk padi). Dari Dogong berkembang menjadi “SEREDAN” yang mempunyai arti permainan saling mendesak tanpa alat, yang kalah dikeluarkan dari arena (lapangan); kemudian dari Seredan berubah menjadi adu mundur, ini masih saling mendesak untuk mendesak lawan dari dalam arena permainan tanpa alat, memdorong lawan dengan pundak, tidak diperkenankan menggunakan tangan, karena dalam permainan ini pelanggaran sering terjadi terutama bila pemain hampir terdesak keluar arena. Dengan seringnya pelanggaran dilakukan maka permainan adu mundur digantikan oleh permainan adu munding.

Permainan benjang sebenarnya merupakan perkembangan dari adu munding atau adu kerbau yang lebih mengarah kepada permainan gulat dengan gerakan menghimpit lawan (piting). Sedangkan pada adu munding tidak menyerat - menyerat lawan keluar arena melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) mendesak lawan dengan kepalanya seperti munding (kerbau) bertarung. Namun gerakan adu mundur, maupun adu munding tetap menjadi gaya seseorang dalam permainan benjang. Permainan adu munding dengan menggunakan kepala untuk mendesak lawan, dirasakan sangat berbahaya, sekarang gaya itu jarang dipakai dalam pertunjukan benjang. Peserta permainan benjang sampai saat ini baru dimainkan oleh kaum laki-laki terutama remaja (bujangan), tetapi bagi orang yang berusia lanjutpun diperbolehkan asal mempunyai keberanian dan hobi.

Apabila kita membandingkan perkembangan benjang zaman dahulu dengan sekarang pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok, hanya pertandingan benjang zaman dahulu, apabila pemain benjang masuk ke dalam arena biasanya suka menampilkan ibingan dengan mengenakan kain sarung sambil diiringi musik tradisional yang khas, kemudian setelah berhadapan dengan musuh mereka membuka kain sarung masing-masing, berikut pakaian yang ia pakai di atas panggung, yang tersisa hanya celana pendek saja menandakan dirinya bersih, tidak membawa suatu alat (sportif). Setelah itu, penabuh alat-alat musik benjang dengan penuh semangat membunyikan tabuhannya dengan irama Bamplang (semacam padungdung dalam irama pencak silat), maka setelah mendengar musik dimulailah pertandingan benjang, dalam pertandingan ini karena tidak ada wasit mungkin saja di antara pemain ada yang licik atau curang sehingga bisa mengakibatkan lawannya cidera. Apabila ada seorang pemain benjang posisinya sudah berada di bawah pertandingan seharusnya diberhentikan karena lawannya sudah menyerah. Namun, karena tidak ada yang memimpin pertandingan (wasit) akhirnya lawan dikunci sampai tidak bisa mengacungkan tangan yang berarti lawannya bermain curang, apabila pemain benjang yang curang itu ketahuan oleh pihak yang merasa dirugikan akan menimbulkan keributan (ricuh) terutama dari penonton, tetapi apabila pemain benjang itu bertanding dengan bersih dan sportif maka pihak yang kalah akan menerimanya walaupun mengalami cidera, sebab sebelumnya sudah mengetahui peraturan pertandingan benjang apabila salah seorang mengalami cidera tidak akan ada tuntutan. Seorang pemain benjang dinyatakan kalah setelah berada di bawah dalam posisi terlentang, melihat tanda seperti itu wasit langsung memberhentikan pertandingan dan lawan yang terlentang tadi dinyatakan kalah (sekarang). Pertandingan benjang seperti zaman dahulu sudah tidak dilakukan lagi, sebab sekarang sudah ada wasit yang memimpin pertandingan, dan dilaksanakan di atas panggung yang memakai alas semacam matras sehingga tidak begitu membahayakan pemain benjang (tukang benjang).

Sedangkan mengenai teknik dan teori benjang dari zaman dahulu sampai sekarang tetap sama tidak berubah, teknik dan teori benjang yang biasa dilaksanakan oleh tukang benjang, antara lain :

1. Nyentok (hentak) kepala
2. Ngabeulit
  • Beulit Gigir,
  • Beulit Hareup,
  • Beulit Bakung,
3. Dobelson
4. Engkel Mati
5. Angkat
6. Dengkekan
7. Hapsay(ngagebot), dan lain-lain



Dalam pertunjukan benjang di masyarakat, jumlah anggota kelompok pemain benjang berkisar antara 20 sampai 25 orang yang terdiri dari satu orang pemimpin benjang, 9 orang penabuh, dan sisanya sebagai pemain. Inti dalam grup benjang ini 15 orang yang tediri atas 9 orang penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit.

Walaupun benjang dikatakan sepi tetapi ada beberapa orang pemain benjang yang mencoba terjun ke dunia olahraga gulat dan mereka berhasil menjadi juara, di antaranya:

1. Adang Hakim, tahun 1967 – 1988 asal Desa Cinunuk
2. Abdul Gani, tahun 1969 – 1970 asal Desa Ciporeat
3. Emun, tahun 1974 – 1977 asal Desa Cinunuk
4. Ii, tahun 1978 – 1979 asal Desa Cinunuk
5. Taufik Ramdani 1979 – 1988 asal Desa Cinunuk
6. Asep Burhanudin tahun 2000 asal Desa Cinunuk
7. Tohidin, tahun 2000 asal Desa Cinunuk kategori anak-anak

Ada pengalaman menarik dari Adang Hakim, bahwa ia pernah dikeroyok oleh beberapa orang pemuda yang tidak dikenal, tiba-tiba mereka menyerang mempergunakan pukulan dan tendangan, Adang Hakim dengan tenang dan penuh percaya diri mampu menyelamatkan diri dengan mempergunakan teknik bantingan, sehingga pemuda tadi tidak berkutik dan yang lainnya melarikan diri takut dibanting seperti temannya. Teknik benjang yang selama ini ia geluti, ternyata bisa digunakan untuk membeladiri di alam terbuka, bukan hanya di arena pertandingan saja. Oleh kerena itu seorang pemain benjang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diri kita selamat dimanapun berada dan selain itu pemain benjang harus selalu ingat pada motto benjang yaitu “jangan sombong dengan kemenangan, dan jangan sedih apabila mengalami kekalahan”.



Benjang dan Gulat

Penulis sangat tertarik sekali melihat teknik-teknik beladiri benjang yang hampir sama dengan gulat, tetapi sebenarnya antara gulat dengan benjang masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, dalam gulat waktu pertandingan dibatas hanya 6 menit, diperbolehkan mengambil kaki lawan seperti gulat gaya bebas, dalam gulat sebelum bertanding diadakan penimbangan badan lebih dahulu, dipertandingkan dengan berat badan yang sama, dan lain sebagainya, gulat sudah mempunyai induk organisasi PGSI, dan dilaksanakan di atas matras.

Sedangkan dalam pertandingan benjang pelaksanaannya masih bebas, tidak ada penimbangan badan lebih dahulu asal pemain benjang (Tukang Benjang) berani menghadapi lawan yang masuk ke arena pertandingan tidak dihiraukan apakah ia badannya besar, tinggi, pendek, gemuk, dan sebagainya harus dihadapi, bahkan sebaliknya apabila ia tidak berani menghadapi lawan yang lebih besar, silakan keluar dari arena pertandingan atau mengundurkan diri (kalau zaman dahulu arena pertandingannya di atas tanah yang kering dan keras), dalam benjang tidak diperbolehkan mengambil kaki lawan tetapi boleh kaki main sama kaki dan tidak ada batas waktu sepanjang pemain benjang itu fisiknya masih kuat dan mampu mengalahkan lawan ia akan tetap berdiri di dalam arena pertandingan.

Persamaannya baik dalam benjang maupun gulat dilarang atau tidak diperbolehkan, mencolok mata, mencekik, menggigit, dan lain sebagainya yang dianggap membahayakan salah seorang pemain benjang atau gulat.

Seni beladiri tradisional Indonesia yang satu ini ternyata sampai sekarang masih ada dan tetap eksis, hanya gaungnya tidak seperti seni beladiri lain misalnya pencak silat atau beladiri asing yang saat ini semakin menjamur di mana-mana. Walaupun seni beladiri benjang belum mempunyai induk organisasi yang menjadi wadah penampungan para tokoh-tokoh benjang, tetapi ternyata sampai saat ini benjang masih hidup dan disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat yang mencintai jenis kesenian tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini di samping kesenian lain di Indonesia.

Sumber majalah DUEL
cerdit to Pendekar Muda Kaskus Martial Arts Forum

Edged weaponry adalah sesuatu yng kurang populer di indonesia, mungkin kurangnyah sosialisasi, atau juga mungkin karena akibat UU Darurat No.12 th 1955, ttg pelarangan senjata tajam.
tidak dapat dipungkiri senjata adalah atribut penjahat, like penodong, garong, preman dll, but tidak dapat dipungkiri juga senjata adalah instrument of war...
banyak pendapat, banyak yang mengelutinyah, namun ada yang memandang sinis, bahwa belajar senjata itu tidak lebih adalah untuk menjawab kekurangan n ketidak mampuan diri dalam berkiprah pada Martial Arts tangan kosong...

Atau mungkin ada yang berpendapat bahwa Edged Weapons Martial Artists adalah pemimpi yang terlalu idealis akan kejayaan para Knight, Samurai, atau Ninja?? Namun belajar beladiri bersenjata atau tidak itu merupakan hak masing2 person dg segudang alasan yng ada...

Bagaimanapun juga dg senjata akan lebih ada kemudahan, apalagi senjata tajam atau senjata2 yang panjang....

Beladiri tangan kosong adalah beladiri untuk kalangan sipil, yang lahir karena pelarangan penguasa. Jaman kuno (Jepang, China, Majapahit, Eropa dll) ada satu bentuk pelarangan terhadap senjata tertentu, karena senjata bagaimanapun juga bila diijinkan bagi orang2 sipil nantinya akan membuat chaos, pemberontakan dll.

Senjata adalah 'Arness de Mano" yang artinyah adalah perkerasan dan perpanjangan jangkauan terhadap tangan, bagi orang beginer, dipersenjatai berarti dia menjadi diatas beginer, dan ini sudah di terapkan dalam FMA ketika menghadapi invasi Spanyol, dimana para petani dipersenjatai dan bisa mengimbangi tentara spanyol saat itu, walaupun pada akhirnyah tetep sajah spanyol masuk Filipino dalam beberapa abad...

Seperti saat ini juga ada bentuk pelarangan senjata tajam dan senjata api di Indonesia, nah konteks now day bagi Beladiri adalah Beladiri Sipil, dan itu sudah menjadi terdoktrin bagi masyarakat, sehingga ada satu anggapan bahwa membawa senjata itu orang ketakutan, baru belajar beladiri, ga percaya diri dll, dan mungkin pendapat ini adalah pendapat sebagian besar masyarakat awam dan masyarakat MA tentunyah...

Konteks beladiri pertama kali adalah Martial Arts, yang berarti Science of War, dalam konteks War senjata adalah hal yang mutlak, dimana terdapat teknologi yang mengembangkan senjata itu sendiri, sehingga akhirnyah War sendiri lepas dari Martial Arts, now day konteks War adalah perang teknologi....

Konteks beladiri saat ini adalah Martial Way, nah ini kan sudah beda, bukan war/perang lagi yang diutamakan tetapi menjadi "jalan, path, atau way", dg kata lain beladiri sudah disantunkan...
dan ini sangat terlihat jelas sekali pemisahannyah dalam Beladiri jepang, dimana ada "gendai" dan "koryu" dg pemisahan pengakhiran "do" dan "jutsu", dimana setiap "do" adalah dipelajari orang sipil, dan "jutsu" tetep dipelajari militer, Dan kebetulan kita semua yang bincang2 ini adalah bukan orang2 yang punyah: Lisence to Kill, semua pembicaraan ini tentunyah masuk dalam koridor "do"/"way" sajah...

Salah satu contoh dari filem, Hunted: dimana seorang instruktur knife fighting yang selamanya ga pernah membunuh, apa yang dia punya hanyalah teory (way) dihadapkan dg muridnyah yang notabene adalah militer, dan menjadi psykopat akibat tekanan batin dalam peperangan (real action)...
pada akhirnyah dalam keadaan terdesak itu "way"/"path" bisa digunakan dalam keadaan real dg segala pergolakan dalam batinnya...

Sulit untuk berbicara ttg edged weapons sebagai bentuk aplikasi sesungguhnyah, karena kita semua adalah orang2 yang bukan militer, walaupun apa yang kita pelajari saat ini namanyah "jutsu"/"killing arts" tetep ajah itu hanyah sebagai simbol!! apa yang kita pelajari saat ini adalah tetep bagian dari "do", just the way, yang penuh romantisme dan fantasy,. Dimana pada akhirnya bagi sebagian orang, adalah sangat membuang waktu untuk belajar sesuatu yang nantinyah mereka sendiri ga tau kapan akan digunakan??

Kita kembali lagi ttg membawa senjata, dg membawa senjata sudah merupakan satu resiko untuk berurusan dg hukum, atau katakanlah membawa senjata satu gudang..berani nggak anda memakainya? tega bikin cacat orang? atau bahkan membunuh lawan anda?

Dalam pandangan budo essensi beladiri tertinggi adalah kedamaian dan cinta kasih, dimana beladiri bukan lagi sebagai instrument dari War!!, beladiri adalah Spiritual, beladiri adalah way of life dan lain-lain.

Dalam jaman yang telah banyak berubah, tidak dituntut seseorang mempertahankan hak2nyah dengan beladiri, kekuatan bukan hanya dinilai secara fisik saja, beladiri telah berubah dari militer ke sipil, beladiri bisa dipertandingkan dg damai, siapa yang terkuat tidak dibuktikan dg pertarungan hidup dan mati, yang terkuat adalah terkuat dalam peraturan2 yang ketat.

Saat ini seharusnyah yang boleh memegang senjata adalah militer, dan apa yng dipelajari di kenjutsu, knife fighting, dll itu semua adalah menu militer, untungnya militer sekarang tidak lagi hanya menggunakan senjata2 tajam saja tetapi ada senjata api, yang mempunyai teknologi lebih bagus, lebih mematikan dengan jarak janglau yang lebih jauh, masyarakat sipilpun bisa memilikinya walaupun dg segala peraturan2 yang njlimet dan uang puluhan juta rupiah. Pada akhirnya masyarakat sipil boleh memegang senjata tajam, karena senjata tajam bukan senjata utama dalam militer, namun demikian masih dalam aturan2 pemerintah yang ketat, dan hal tersebut bukan hanyaberlaku di Indonesia saja, Eropa/Amerika juga terdapat Undang-undang pelarangan terhadap senjata tajam tertentu (concleable weapon /senjata tajam tersembunyi, juga termasuk balisong) dg alasan senjata tajam membahayakan sipil
seperti jaman shogunate jepang, jaman dinasty2 china, jaman kerajaan nusantara dll.

Senjata tajam adalah menu bujutsu, Sedangkan dalam budo beladiri tangan kosong lebih diutamakan, hehe, apa berhenti sampai disitu saja, bagi pecinta edged weaponry arts? ohh nope... perkembangan edged weaponry juga ga kalah dg beladiri tangan kosong, tapi ya emang ga sebegitu populernya dg MMA (bikin iri ahh...)

Tetep dipertandingkan!! lho apa bisa?? pertandingan adalah satu hal yang sangat dibutuhkan safety untuk para pelakunya (padahal bonyok juga yah....) untuk itu tentunya segala atribut yang ada harus disesuaikan, dari edges weapons menjadi blunt weapon:

- Dalam Kendo, “Katana/Shinken” menjadi “Shinai” atau “Pedang Bambu”.

- Board Sword yang berat dan Rapier yang tajam pada Historical Fencing disesuaikan menjadi, “Sable”, “Dagen” dan “Floret” pada Modern Fencing.

- Kampilan, Pinuti, Barong, tidak boleh dipakai, yang dipertandingkan dalam Eskrima adalah Stick Fighting. Knife yang tajam, diganti pisau kayu (Sayang dalam World StickFighting Championship 2007 CDP-WF, di Kuningan - Jakarta tahun kemarin, ijin pertandingan Knife Fighting tidak dikeluarkan)

- Dalam Kenjutsu yaitu seni pedang Jepang sendiri masih dipertandingkan, begitu banyak Ryuha di Jepang, Eropa, dan belahan benua yang lain yang masih mempertandingkan bagaimana keindaan seorang “Samurai” dalam mencabut pedang, memotong tatami yang berisi bambu dalam tameshigiri.

- dan lain-lainnyah

Senjata tajam brutal?? kelas rendahan?? Silahkan disimpulkan sendiri dari tulisan ini.
Tetapi kalau itu dipakai beneran dalam real life! uwaaaaaahhh jawabnya pasti: iya!!

Pada akhirnyah semua praktisi beladiri sipil, entah yang dipelajari koryu atau military arts sekalipun, akan menjadikan semua yang dipelajari hanyah sebatas "Life Style", Sudah bukan jamannyah lagi menyelesaikan sebuah masalah dg Martial Arts. (hartcone)

Filipino Martial Arts (untuk selanjutnya akan dipakai istilah FMA) adalah satu bentukan beladiri unik, secara region kawasannyah terletak di Asia Tenggara, oleh sebab itu pengaruh beladiri Asia Tenggara seperti Pencak Silat sangat kuat (yang terkenal mematikan di dunia barat) dan karena pernah dijajah oleh Spanyol otomatis ada pengaruh ilmu pedang barat.

Ada satu miskonsepsi dari orang awam bahwa FMA adalah satu beladiri stick fighting, tapi sebenarnyah itu adalah anggapan yang salah. Kali-Arnis-Eskrima mengembangkan keahlian untuk seni bela diri dengan senjata dan seni bela diri tangan kosong dalam satu dasar keilmuan.

Semua sistem Kali-Arnis-Eskrima mengajarkan penggunaan berbagai macam senjata, keahlian bela diri tangan kosong "pangamot, suntukan, sikaran, pananjakan", keahlian bergulat dan membanting "dumog", keahlian mengigit dan mencolok mata "kino mutai' dimana secara umum itu adalah keahlian yang dibutuhkan dalam seni mempertahankan diri. dan satu lagi adalah sistem pengobatan, pemijatan, pengenalan kepada tanaman obat tradisional yang disebut sebagai "hilot".

Keahlian seni bela diri dengan menggunakan senjata dan tangan kosong diajarkan dalam metode yang saling berkaitan dan saling menunjang satu sama lainnya. Yang banyak dipakai adalah berupa tongkat tunggal (solo olisi/baston), tongkat ganda (double olisi / baston) dan pedang atau tongkat yang digunakan bersama dengan pisau (espada y daga). Sebagian sistem diketahui mengkhususkan pada cambuk dan tongkat panjang (toya).

Kata Eskrima adalah ucapan secara Filipina dari bahasa Spanyol "esgrima", dalam Inggris adalah kata "skirmish" yang berarti "perang".

Arnis adalah bagian dari kata "Arnes de Mano" yang berarti "perkerasan terhadap tangan".

Sedangkan penamaan Kali ada beberapa versi, sebagian mengatakan berasal kepada kata senjata berupa keris, atau kalis. Yang lain mengatakan berasal dari pengabungan kata "kamot" atau "kamay" yang berarti "tangan" atau "tubuh", dan lihok yang berarti "pergerakan".

Satu hal yang unik dalam beladiri filipina adalah pelajaran senjata diajarkan di awal kurikulum, ini adalah satu tradisi yang terus berlanjut dari sejarah FMA, pada awalnya adalah secara instant mencetak prajurit tempur untuk melawan invasi bangsa spanyol dan bangsa2 lainnyah...

Setelah saya masuk didalamnya ternyata ada satu hal yang menarik untuk diamati, sama seperti beladiri tangan kosong lainnya siswa akan dituntut untuk bisa lebih menguasai gerakan dengan banyak frekuensi pelatihan dalam striking, kalau belajar karete tentunya sesorang praktisi karate akan melakukan pukulan ribuan kali, dalam TKD juga demikian praktisi TKD akan melakukan ribuan kali tendangan, dalam Arnis-Eskrima seorang siswa tidak boleh bosan untuk melakukan strike dengan olisi/baston.

Di CDP CMAA sendiri ada satu tradisi memukul ban atau sandbag, satu menit untuk masing-masing tangan selama lebih dari 10 menit untuk pemanasan, dengan kaki berjinjit dan melompat-lompat, bagi yang melihat mungkin mengatakan ahh hanya begitu saja, tetapi ketika dilakukan waduhh, pegel, cape, ngos-ngsanan, forearm dan deltoid akan terasa kaku. Tanpa disadari pelatihan seperti itu nantinya akan membangun satu forearm yang kuat, yang akan dibutuhkan dalam beladiri tangan kosong, yang banyak menerapkan trap, locking dan throwing.

Ada pelatihan yang dinamakan "amara" yaitu memutar olisi/baston secara bersusulan, "sinawali" yaitu pelatihan secara berpasangan dimana dua orang praktisi akan saling memukulkan olisi/baston mereka dengan irama-irama yang tetap, pelatihan memakai senjata mempunyai kelebihan kalau tidak benar akan "nyantol" nah ini benar-benar menuntut siswa untuk membangun sensitivity dan koordinasi gerakan tangan, secara lebih terarah.

Dari kedua aspek ini, didapatkan keuntungan untuk membangun power, stamina sekaligus koordinasi gerakan dan sensitivity dalam satu paket pelatihan.

Dalam FMA ada satu korelasi antara senjata dan empty hand, konsep FMA akan memperlakukan dengan sama kedua aspek tersebut dengan sedikit penyesuaian. Senjata adalah perkerasan dan perpanjangan tangan, kalau pada akhurnya nanti senjata itu dibuang tetap ada satu kesamaan prinsip.

Di FMA dikenal "punto" dan "punyo", punto adalah ujung, punyo adalah pangkal, keduanya bisa dipakai sebagai alat serang, juga bisa diperlakukan untuk sebagai sasaran serang.
Korelasinya adalah dalam stick, punto ujung stick sebagai alat serang utama, punyo adalah bagian lebih stick yang dipegang (biasanyah disisakan 2 jari sampai satu kepal), FMA akan memperkalukan hal yang sama terhadap tangan dan kaki, dalam hal ini punto adalah kepalan dan ujung kaki sedangkan punyo adalah siku dan lutut.

Karena stick adalah blunt weapons atau senjata tumpul, kemungkinan lawan bisa graping atau memegang, maka terciptalah satu jalan penyelesaian, secara mekanik stick yang panjang tersebut bisa di "ungkit", dimana ada hukum fisika disana, maka FMA terlihat kaya akan trap dan locking, dalam konsep korelasi demikian juga perlakuan terhadap tangan dan kaki dalam anatomi tangan dan kaki akan sakit bila dipuntir, diungkit dll. itu semua dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Korelasi dengan senjata tajam, stick sendiri merupakan pelatihan terhadap senjata tajam berupa pedang medium (dipegang dengan satu tangan), barong, pinuti, keris sundang, parang dll

Dalam pisau yang relatif lebih pendek, bila cara memegangnya memakai hammer grips (cara pegang standard, ujung tajam pisau menghadap kedepan) korelasinya adalah ujung tajam pisau sebagai punto yang diperpendek, sedangkan bila cara memegangnya adalah ice-pick grip (cara pegang terbalik, ujung menghadap ke belakang) korelasinya ujung tajam pisau dipakai sebagai punyo. (hartcone)
Seni Bela Diri adalah sistem yang diciptakan dan dipelajari dalam suatu tradisi untuk pertarungan, dalam lingkupnya dipelajari berbagai aspek untuk beberapa macam alasan, termasuk didalamnyah ketrampilan bertarung baik dengan senjata atau tangan kosong, kebugaran tubuh, mempertahankan diri, olahraga, meditasi, membangun karakter atau kombinasi dari beberapa aspek diatas.

Karena begitu banyak peradapan dan budaya manusia yang berbeda-beda, akhirnya timbul bermacam-macam ragam aliran bela diri, masing-masing wilayah di berbagai belahan dunia mempunyai seni beladiri dengan karakter unik, dan itu menjadi pembeda satu dengan yang lainnya, tetapi hal yang sama adalah tujuan terciptanya beladiri tersebut dan sistematika dari teknik bertarung.

Ditinjau dari budaya barat, bela diri lebih populer memakai kata “martial arts”, kata ‘martial’ diambil dari nama Mars, dewa perang Romawi kuno. “martial arts” secara harafiah bisa bisa diatrikan sebagai seni perang, kata ini sudah populer di Eropa pada abad 15, yang merujuk pada seni bela diri Eropa yang kita kenal dewasa ini sebagai “historical fencing”.

Selain itu dalam tinjauan budaya barat ada pula kata “self defence”, dalam bahasa Indonesia populer sengan istilah “seni bela diri” yang berarti cara mempertahankan diri sebagai satu eksistensi yang mempunyai hak bebas berkehendak sebagai mahluk hidup dari serangan secara fisik oleh orang lain baik perorangan atau kelompok. Self defence atau seni bela diri lebih menunjukkan sisi pasif dari martial arts, dimana setelah ada aksi baru ada reaksi, ketika tidak ada aksi sama sekali otomatis akan ada dalam suatu keadaan diam atau pasif.

Bela diri sangat beragam dan luas, kebanyakan teknik alira-aliran beladiri merupakan penggabungan dari beberapa teknik seperti memfokus pada pertarungan yang lebih mengutamakan pukulan dan tendangan, mengutamakan pada bantingan atau melempar, memengutamakan pada gulat, mengutamakan pada kuncian, atau mengutamakan pada pelatihan senjata. Yang paling mudah dalam pengelompokan adalah dilihat dari penyelesaian teknik masing2 aliran, apakah itu bertarung secara berdiri (stand-up fighting) atau dengan secara bergulat/bergumul (ground fighting) dan penggabungan antara keduanya.

Beberapa aliran beladiri terutama dari Asia, juga mengajarkan cara-cara pengobatan, mempelajari tentang pengetahuan tentang hubungan tulang, dalam pencak silat di sebut sangkal putung, tusuk jarum, tusuk jari, pengobatan melalui ramuan ramuan tradisionla dan lainnya. (team admin)